Gedumprang, brett,…….suara glas berisi air rebah di atas meja dan air membasahi meja dan selanjutnya gelas menggelundung jatuh dan pecah berserakan di lantai. “Memed lagi”, kata teman-teman di sebelah ruangan berteriak. Dan memang kejadiannya begitu, Memed saking asyiknya membaca gambar ukuran Ao lalu membentangkan gambar yang tadi di pegangnya sambil berdiri kemudian dia duduk di meja kerjanya dengan tidak memperhatikan lagi gelas air minum di mejanya, maka airpun tumpah dan gelas pecah. Kejadian itu sering terjadi di kantor kami dan pelakunya sering orang itu-itu juga. Memang kalau diperhatikan Memed betul-betul orang yang memiliki wajah tanpa dosa. Selesai peristiwa itu santai saja dia melapor ke Office Boy supaya membersihkan dan mengganti gelasnya. Pekerjaan pembersihan itu dilakukan dan meja bersih lagi sehingga Memed bisa bekerja. Tapi, selang beberapa minggu peristiwa itu akan berulang lagi.
Lain lagi dengan Aril, dia seringkali tidak bisa tepat waktu, baik untuk acara resmi maupun tidak resmi. Sekalipun kita sudah janjikan dan ingatkan agar ia tidak terlambat, pasti saja dia terlambat. Uniknya lagi ketika kita sama-sama bertugas SPD ke suatu tempat dimana perjalanan lokal kita memakai mobil yang disediakan tuan rumah secara bersama, maka sudah jadi kerutinan di rumah tempat kita tinggal, tiap pagi ketika semua orang sudah siap di mobil untuk pergi, masih menunggu dia yang sibuk di kamar/ kamar mandi. Begitu juga ketika pulang dari kantor malamnya, dia akan begitu juga, ketika semua teman sudah menunggu di mobil, ia masih santai-santai nelepon keluarga di telepon kantor. Dan kejadian itu dilakukannya tiap hari dengan tiada rasa bersalah.
Fenomena senada dengan hal-hal yang saya sebutkan di atas ternyata saya temukan dalam bulu Being Happy karangan Andrew Matthews, disebutnya sebagai suatu “pola diri.” Jadi kalau mau mengubah yang bersangkutan, ya, harus menyadarkan dia akan pola diri itu. Sepanjang pola diri tidak diubah, maka kejadian yang dilakukannya yang memang sudah terpola di alam bawah sadar akan terulang lagi dan lagi.
Demikianlah, betapa perlunya kita introspeksi adakah diri kita ini mempunyai pola diri yang kurang baik yang dijadikan tanda oleh orang lain pada diri kita. Bagaimanapun selaku muslim, ajaran agama kita mengajarkan agar kita senantiasa dapat memberikan uswatun khasanah, semoga kita bisa mengamalkannya, amiin.